Jumat, 20 April 2012

Travis - Closer Kereeeeen.. easy but cool :D

Sekapur Sirih



                                                       Sekapur Sirih



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

                 Selamat datang abang-none, ncang-ncing dan nyak-babe di blog betawivanbatavia.blogspot.com  Alhamdulilah puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya bagi kita semua.Perkembangan budaya di era teknologi informasi dirasakan kurang dibandingkan dengan perkembangan teknologi itu sendiri sehingga dikhawatirkan  dapat menggerus kebudayaan atau bahkan menghilangkannya.Untuk mengimbanginya maka  diperlukan media yang dirasa tepat dalam perkembangan teknologi informasi.Saat ini media internet merupakan solusi yang tepat untuk tetap melestarikan budaya kita dikarenakan keunggulannya media internet yang mampu menjangkau hingga keseluruh dunia.Oleh karena itu saya membuat blog betawivanbatavia. Blog ini berisikan kumpulan artikel-artikel mengenai sejarah, seni dan budaya, berita, kuliner ,dan objek wisata di betawi ( Jakarta ). Dengan maksud agar artikel-artikel yang ada dapat membantu anda dan kita semua dalam upaya melesatrikan kebudayaan betawi yang kita cintai ini ,memberikan pengetahuan yang lebih kepada generasi muda dan mengaplikasikan kembali nilai-nilai budaya betawi yang luhur di dalam kebidupan bermasyarakat. Terima kasih banyak atas perhatiannya semoga blog ini dapat bermanfaat bagi kita semua ........
 
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kamis, 19 April 2012

My Minds

Ismail Marzuki

                Komponis dari suku Betawi asli, panggilannya Bang Ma'ing. Lahir di Kampung Kwitang, Jakarta, 11 Mei 1914 dan meninggal di Jakarta, 25 Mei 1958. Ia adalah tokoh musik Indonesia, pencipta lagu dan musikus serba bisa, yang sering tampil sebagai pemain orkes atau penyanyi. Lagu-lagunya bersifat sangat melodius, pesimistis, melankolis tetapi tidak cengeng. Lagu-lagu pejuangannya sangat manusiawi; merupakan catatan revolusi yang mengharukan; menggambarkan aneka tokoh manusia Indonesia yang serempak berjuang mempertahankan setiap jengkal tanah airnya.

         Ia menempuh pendidikan di HIS Idenburg Menteng kemudian melanjutkan ke MULO di Jl. Menjangan Jakarta. Sebagai anak Betawi ia memperoleh pendidikan Agama di Madrasah Unwanul Wustha. Karir musiknya diawali sebagai anggota grup musiknLief Java pimpinan Hugo Dumas, sebuah orkes terkenal di zaman Belanda, yang pernah sempat melawat ke Malaya. Lalu ikut dalam siaran NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappy) yang berdiri tahun 1934. Memimpin Orkes Studio Jakarta, membentuk Orkes Studio Bandung (1936-1937), Hoso Kanri Kyoku di zaman Jepang dan kembali memimpin Orkes Studio Jakarta di zaman kemerdekaan. Pada tahun 1931, Maing, sapaan akrab Ismail Marzuki, memulai menciptakan lagu O Sarinah yang menggambarkan suatu kondisi kehidupan bangsa yang tertindas. Lagu-lagu ciptaannya antara lain Rayuan Pulau Kelapa yang dicipta tahun 1944, Gugur Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Selendang Sutera (1946), Sepasang Mata Bola (1946), dan Melati di Tapal Batas (1947). Lagunya dalam bahasa Belanda yang terkenal serta sukses juga diluar negeri yakni Als De Orchedeen Bloeien.

        Ismail Marzuki menikah dengan Eulis Zuraidah penyanyi keroncong asal Bandung. Berhasil menciptakan 202 judul lagu. Lagu-lagu ciptaannya antara lain: Oh Sarinah, Olele Kotaraja, My Hulla Girl, Dari Jaman Belanda; Bunga Mawar dari Kayangan untuk film Terang Bulan; Bandar Jakarta; Panon Hideung (yang ditujukan untuk istrinya); Rayuan Pulau Kelapa, yang mendapatkan Piagam Wijaya Kusuma tahun 1964 dan masih banyak lagi lagu-lagu yang diciptakannya lagi sewaktu masa revolusi. Yang terkenal diantaranya: Indonesia Tanah Pusaka, Gagah Perwira, Maju Tak Gentar, Bagimu Negri, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, Kapral Jono, serta Sepasang Mata Bola.

            Gelar pahlawan nasional dianugerahkan kepadanya bersama lima putra terbaik bangsa lainnya, yakni Maskoen Soemadiredja, Andi Mappanyukki, Raja Ali Haji, KH. Achmad Ri'fai, dan Gatot Mangkoepradja. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November, di Istana Negara Rabu 10/11/2004. SebelumnyaNamanya diabadikan sebagai nama Pusat Kesenian Jakarta TIM, yang terletak di. Jl. Cikini, Jakarta Pusat.


http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3709/Ismail-Marzuki


              Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII) merupakan tempat rekreasi yang sangat populer dan akrab bagi warga kota Jakarta serta kota-kota lain di Indonesia, bahkan mancanegara. Konsepnya menyajikan wahana dan fasilitas secara rekreatif, informatif, edukatif, komunikatif, dan atraktif (RIEKA).

           Miniatur Indonesia secara lengkap, baik bentang darat, kekayaan alam, aneka warna seni dan budaya daerah, maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berbagai bentuk seni dan budaya masa kini tersajikan di sini. Paparannya diwujudkan dalam bentuk Miniatur Arsipel Indonesia yang merupakan danau buatan dengan tiruan kepulauan Indonesia berikut penampang daratnya beserta anjungan-anjungan daerah. Tiap anjungan tersebut menampilkan rumah adat bercorak arsitektur tradisional berikut penyajian benda-benda budaya, pentas seni, upacara adat, keragaman kuliner, dan berbagai seluk beluk yang berkait dengan daerah bersangkutan, yang secara nyata menunjukkan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an Indonesia.

            Selain anjungan daerah, berderet museum-museum yang memamerkan bukan hanya koleksi sejarah, budaya, serta teknologi masa lalu dan masa kini melainkan juga menciptakan dialog dengan pengunjung melalui berbagai peragaan yang—pada gilirannya—menjadi tonggak penciptaan di masa depan. Penampilan 15 museum, antara lain Museum Indonesia, Museum Transportasi, Museum Migas, Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, merupakan sumber informasi tiada batas.

        Wahana rekreasi berupa 11 unit taman, antara lain Taman Burung, Taman Akuarium Air Tawar, dan Taman Bunga Keong Emas; berbagai wahana inovatif, seperti Istana Anak Anak Indonesia, Teater Imax Keong Emas, Teater 4D’Motion, Kereta Gantung (skylift), “monorel” Aeromovel; serta Taman Budaya Tionghoa Indonesia dan TMII Waterpark yang kini sedang dibangun, juga menawarkan nuansa yang menarik.Berbagai jenis wahana dan fasilitas tersebut semuanya mempunyai dimensi rekreasi, pendidikan, pelestarian, sekaligus pemerkayaan cakrawala pengetahuan dan pewarisan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, khususnya bagi generasi muda.

Kunjungi Taman Mini “Indonesia Indah”, lihat pesona Indonesia.

Gambang Kromong



        Sebuah orkes tradisional Betawi yang merupakan orkes perpaduan antara gamelan, musik Barat dengan nada dasar pentatonis bercorak Cina. Orkes ini memang erat hubungannya dengan masyarakat Cina Betawi, terutama Cina peranakan dan populer di tahun 1930-an. Instrumen gamelan pada gambang kromong terdiri dari: gambang kayu, seperangkat bonang lima nada yang disebut kromong, dua buah alat gesek seperti rebab, dengan resonator terbuat dari tempurung kelapa mini disebut ohyan dan gihyan, suling laras diatonik yang ditiup melintang, kenong dan gendang. Sedangkan instrumen musik dari Barat meliputi terompet, gitar, biola, dan saksofon.

          Sekitar tahun 1937 orkes-orkes gambang kromong mencapai puncak popularitasnya, salah satu yang terkenal Gambang Kromong Ngo Hong Lao, dengan pemainnya terdiri dari orang-orang Cina semua. Alat-alat musik dalam orkestra tersebut dianggap paling lengkap, terdiri dari alat-alat seperti berikut: sebuah gambang kayu; seperangkat kromong; empat buah rebab Cina yang berbeda-beda ukurannya; alat petik berdawai disebut Sam Hian; sebuah bangsing bambu; dua buah alat jenis cengceng disebut ningnong; sepasang Pan, yakni dua potong kayu yang saling dilagakan untuk memberi maat (tempo). Tangga nada yang dipergunakan, bukanlah slendro seperti laras gamelan Jawa, Sunda atau Bali, melainkan modus khas Cina, yang di negeri asalnya dahulu bernama tangga nada Tshi Che; seperti yang di dengar pada gambang.
Susunan belanga-belanga kromongnya adalah sebagai berikut :

(A) (G) (E) (D) (C)
(D) (E) (C) (G) (A)

           Adapun yang disebut "rebab cina", yang berukuran paling besar dinamakan su kong, sesuai dengan laras dawai-dawainya, yang meniru nada su dan nada kong. Rebab dengan ukuran menengah disebut hoo siang, karena dawai-dawainya dilaras menurut nada hoo dan nada siang. Rebab yang paling kecil dinamakan kong a hian, sesuai dengan larasnya meniru bunyi nada-nada Cina. Rebab yang punya ukuran sedikit lebih besar dari kong a hian, ialah yang bernama tee hian, yang larasnya serupa dengan laras kong a hian.

           Sam Hian adalah alat berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik seperti memainkan gitar; dan alat itu memainkan jalur melodi (nuclear melody) dalam orkes tersebut. Ketiga dawainya dilaras dengan nama nada dengan notasi demikian, apabila orkes Gambang Kromong memainkan lagu-lagu khas Cina yang disebut Pat fem, maka dipergunakan pula tambahan alat tiup berupa serunai, yakni dai sosa dan cai di (siao sona). Pada waktu pertama kali muncul di Betawi, orkes ini hanya bernama gambang. Sejak awal abad ke-20, mulai menggunakan instrumen tambahan, yaitu bonang atau kromong, sehingga orkes ini dinamakan Gambang Kromong. Pada masa itu hampir setiap daerah di Betawi memiliki orkes Gambang Kromong, bahkan tersebar sampai daerah Jatinegara, Karawang, Bekasi, Cibinong, Bogar, Sukabumi, Tangerang, dan Serang.

       Bagi orang Cina kaya, tauke-tauke atau babah-babah pada masa "Batavia Centrum", sudah merupakan adat dan tradisi, untuk memeriahkan bermacam ragam pesta dan perayaan mereka, dengan memanggil perkumpulan gambang kromong untuk bermain. Misalnya pesta perkawinan, rasanya tidak sempurna kalau belum memanggil orkes seperti itu ke dalam pesta. Musik dan nyanyian dengan iringan gambang kromong, sudah lazim pula dirasakan belum cukup asam garamnya, kalau belum disertai minum arak, brendi atau alkohol. Pemain musiknya terdiri dari orang Betawi asli atau Cina.

        Di dalam perayaan tradisional bangsa Cina, yaitu Cap Go Meh tidak lupa dimeriahkan dengan Gambang Kromong. Repertoar Gambang Kromong yang sangat dikenal oleh masyarakat penontonnya, antara lain: Pecah Piring, Duri Rembang, Temenggung Menulis, Go Nio Rindu, Thio Kong len, Engko si Baba, dan lain-lain. Selain itu gambang kromong, biasanya disertai pula dengan lakon-lakon, seperti: Si Pitung, Pitung Rampok Betawi, Bonceng Kawan, Angkri Digantung, dan lain-lain.

          Adapun lagu Gambang Kromong yang terkenal adalah Jali-Jali. Sedangkan lagu jenis Nina Bobok kebanggaan Gambang Kromong, berJudul indung-indung. Orkes ini memiliki repertoar asli dalam bahasa Cina, yang disebut sebagai lagu-lagu Phobin. Karena para penyanyinya kebanyakan terdiri dari wanita-wanita pribumi, maka repertoar Phobin tidak dinyanyikan, melainkan dimainkan sebagai "gending" (instrumental). Hal itu, bukan karena komposisi-komposisi tersebut memang bersifat gending, karena banyak di antaranya yang benar-benar merupakan "Lied" atau lagu untuk nyanyian vokal. Di antara lagu-lagu pobin ialah: Soe Say Hwee Bin (Joo Su Say sudah kembali), Kim Hoa Tjoen (bunga Kim Hoa berkembang), Pek Bouw Tan (bunga Bow Tan nan putih), Kong Djie Lok, Djien Kwie Hwee (pulang kembalinya pahlawan bernama Siek Jin Kwie).

Pada zaman dahulu, masa Hindia Belanda orkes-orkes Gambang Kromong yang bersifat Cina-Indonesia itu, seringkali tidak mempunyai biduanita-biduanita yang dapat menyanyikan Po-bin-po-bin dalam bahasa Cina. Karena itulah lagu itu dimainkan secara instrumental saja, padahal sebagian besar harus dinyanyikan, karena merupakan melodi-melodi vokal. Lagu-lagu berbahasa Indonesia yang dimainkan oleh orkes Gambang Kromong ialah lagu memuja bunga serta tokoh, misalnya Pecah-Piring, Duri Rembang, Temenggung Menulis, Co Nio Rindu, Tion Kong In, Engko si Baba, dan selain itu cerita mengenai peristiwa lampau, umpamanya Bonceng Kawan, cerita Pitung Rampok Betawi, cerita Angkri Digantung di Betawi. Adapun salah satu lagu pengantar tidur yang populer masa itu adalah indung-indung.

Gambang Kromong sebagai sekumpulan alat musik perpaduan yang harmonis antara unsur pribumi dengan unsur Cina. Orkes Gambang Kromong tidak terlepas dari jasa Nie Hoe Kong, seorang pemusik dan pemimpin golongan Cina pada pertengahan abad XVIII di Jakarta. Atas prakarsanyalah, penggabungan alat-alat musik yang biasa terdapat dalam gamelan (pelog dan selendro) digabungkan dengan alat-alat musik yang berasal dari Tiongkok. Pada masa-masa lalu, orkes Gambang Kromong hanya dimiliki oleh babah-babah peranakan yang tinggal di sekitar Tangerang, Bekasi, dan Jakarta. Di samping untuk mengiringi lagu, Gambang Kromong biasa dipergunakan untuk pengiring tari pergaulan yakni tari Cokek, tari pertunjukan kreasi baru dan teater Lenong

http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/637/Gambang-Kromong

Kerak Telur



                                                      Kerak Telur, makanan khas tradisional Betawi

 Makanan tradisional Betawi yang terbuat dari bahan-bahan seperti: ketan putih, telor bebek/ayam, bawang, srundeng, udang kering (ebi), lada, dan micin. Cara pembuatannya: ketan putih dan telur dicampur sebagai adonan dengan diberi bumbu-bumbu seperti telah disebutkan di atas. Lalu digoreng sangan (tanpa minyak goreng) dengan membolak-balikkan wajannya. Kemudian diberi srundeng, ebi, dan bawang goreng.

Artikel : http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/1400/Kerak-Telur