Jumat, 20 April 2012
Sekapur Sirih
Sekapur Sirih
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat datang abang-none, ncang-ncing dan nyak-babe di blog betawivanbatavia.blogspot.com Alhamdulilah puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya bagi kita semua.Perkembangan budaya di era teknologi informasi dirasakan kurang dibandingkan dengan perkembangan teknologi itu sendiri sehingga dikhawatirkan dapat menggerus kebudayaan atau bahkan menghilangkannya.Untuk mengimbanginya maka diperlukan media yang dirasa tepat dalam perkembangan teknologi informasi.Saat ini media internet merupakan solusi yang tepat untuk tetap melestarikan budaya kita dikarenakan keunggulannya media internet yang mampu menjangkau hingga keseluruh dunia.Oleh karena itu saya membuat blog betawivanbatavia. Blog ini berisikan kumpulan artikel-artikel mengenai sejarah, seni dan budaya, berita, kuliner ,dan objek wisata di betawi ( Jakarta ). Dengan maksud agar artikel-artikel yang ada dapat membantu anda dan kita semua dalam upaya melesatrikan kebudayaan betawi yang kita cintai ini ,memberikan pengetahuan yang lebih kepada generasi muda dan mengaplikasikan kembali nilai-nilai budaya betawi yang luhur di dalam kebidupan bermasyarakat. Terima kasih banyak atas perhatiannya semoga blog ini dapat bermanfaat bagi kita semua ........
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kamis, 19 April 2012
Ismail Marzuki
Komponis dari suku Betawi asli,
panggilannya Bang Ma'ing. Lahir di Kampung Kwitang, Jakarta, 11 Mei 1914
dan meninggal di Jakarta, 25 Mei 1958. Ia adalah tokoh musik Indonesia,
pencipta lagu dan musikus serba bisa, yang sering tampil sebagai pemain
orkes atau penyanyi. Lagu-lagunya bersifat sangat melodius, pesimistis,
melankolis tetapi tidak cengeng. Lagu-lagu pejuangannya sangat
manusiawi; merupakan catatan revolusi yang mengharukan; menggambarkan
aneka tokoh manusia Indonesia yang serempak berjuang mempertahankan
setiap jengkal tanah airnya.
Ia menempuh pendidikan di HIS Idenburg
Menteng kemudian melanjutkan ke MULO di Jl. Menjangan Jakarta. Sebagai
anak Betawi ia memperoleh pendidikan Agama di Madrasah Unwanul Wustha.
Karir musiknya diawali sebagai anggota grup musiknLief Java
pimpinan Hugo Dumas, sebuah orkes terkenal di zaman Belanda, yang pernah
sempat melawat ke Malaya. Lalu ikut dalam siaran NIROM (Nederlands
Indische Radio Omroep Maatschappy) yang berdiri tahun 1934. Memimpin
Orkes Studio Jakarta, membentuk Orkes Studio Bandung (1936-1937), Hoso
Kanri Kyoku di zaman Jepang dan kembali memimpin Orkes Studio Jakarta di
zaman kemerdekaan. Pada tahun 1931, Maing, sapaan akrab Ismail Marzuki,
memulai menciptakan lagu O Sarinah yang menggambarkan suatu kondisi kehidupan bangsa yang tertindas. Lagu-lagu ciptaannya antara lain Rayuan Pulau Kelapa yang dicipta tahun 1944, Gugur Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Selendang Sutera (1946), Sepasang Mata Bola (1946), dan Melati di Tapal Batas (1947). Lagunya dalam bahasa Belanda yang terkenal serta sukses juga diluar negeri yakni Als De Orchedeen Bloeien.
Ismail Marzuki menikah dengan Eulis
Zuraidah penyanyi keroncong asal Bandung. Berhasil menciptakan 202 judul
lagu. Lagu-lagu ciptaannya antara lain: Oh Sarinah, Olele Kotaraja, My Hulla Girl, Dari Jaman Belanda; Bunga Mawar dari Kayangan untuk film Terang Bulan; Bandar Jakarta; Panon Hideung (yang ditujukan untuk istrinya); Rayuan Pulau Kelapa,
yang mendapatkan Piagam Wijaya Kusuma tahun 1964 dan masih banyak lagi
lagu-lagu yang diciptakannya lagi sewaktu masa revolusi. Yang terkenal
diantaranya: Indonesia Tanah Pusaka, Gagah Perwira, Maju Tak Gentar, Bagimu Negri, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, Kapral Jono, serta Sepasang Mata Bola.
Gelar pahlawan nasional dianugerahkan
kepadanya bersama lima putra terbaik bangsa lainnya, yakni Maskoen
Soemadiredja, Andi Mappanyukki, Raja Ali Haji, KH. Achmad Ri'fai, dan
Gatot Mangkoepradja. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan
dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November, di Istana Negara
Rabu 10/11/2004. SebelumnyaNamanya diabadikan sebagai nama Pusat
Kesenian Jakarta TIM, yang terletak di. Jl. Cikini, Jakarta Pusat.
http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3709/Ismail-Marzuki
Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII) merupakan tempat rekreasi yang
sangat populer dan akrab bagi warga kota Jakarta serta kota-kota lain di
Indonesia, bahkan mancanegara. Konsepnya menyajikan wahana dan
fasilitas secara rekreatif, informatif, edukatif, komunikatif, dan
atraktif (RIEKA).
Miniatur Indonesia secara lengkap, baik bentang darat, kekayaan alam, aneka warna seni dan budaya daerah, maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berbagai bentuk seni dan budaya masa kini tersajikan di sini. Paparannya diwujudkan dalam bentuk Miniatur Arsipel Indonesia yang merupakan danau buatan dengan tiruan kepulauan Indonesia berikut penampang daratnya beserta anjungan-anjungan daerah. Tiap anjungan tersebut menampilkan rumah adat bercorak arsitektur tradisional berikut penyajian benda-benda budaya, pentas seni, upacara adat, keragaman kuliner, dan berbagai seluk beluk yang berkait dengan daerah bersangkutan, yang secara nyata menunjukkan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an Indonesia.
Selain anjungan daerah, berderet museum-museum yang memamerkan bukan hanya koleksi sejarah, budaya, serta teknologi masa lalu dan masa kini melainkan juga menciptakan dialog dengan pengunjung melalui berbagai peragaan yang—pada gilirannya—menjadi tonggak penciptaan di masa depan. Penampilan 15 museum, antara lain Museum Indonesia, Museum Transportasi, Museum Migas, Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, merupakan sumber informasi tiada batas.
Wahana rekreasi berupa 11 unit taman, antara lain Taman Burung, Taman Akuarium Air Tawar, dan Taman Bunga Keong Emas; berbagai wahana inovatif, seperti Istana Anak Anak Indonesia, Teater Imax Keong Emas, Teater 4D’Motion, Kereta Gantung (skylift), “monorel” Aeromovel; serta Taman Budaya Tionghoa Indonesia dan TMII Waterpark yang kini sedang dibangun, juga menawarkan nuansa yang menarik.Berbagai jenis wahana dan fasilitas tersebut semuanya mempunyai dimensi rekreasi, pendidikan, pelestarian, sekaligus pemerkayaan cakrawala pengetahuan dan pewarisan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, khususnya bagi generasi muda.
Kunjungi Taman Mini “Indonesia Indah”, lihat pesona Indonesia.
Miniatur Indonesia secara lengkap, baik bentang darat, kekayaan alam, aneka warna seni dan budaya daerah, maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berbagai bentuk seni dan budaya masa kini tersajikan di sini. Paparannya diwujudkan dalam bentuk Miniatur Arsipel Indonesia yang merupakan danau buatan dengan tiruan kepulauan Indonesia berikut penampang daratnya beserta anjungan-anjungan daerah. Tiap anjungan tersebut menampilkan rumah adat bercorak arsitektur tradisional berikut penyajian benda-benda budaya, pentas seni, upacara adat, keragaman kuliner, dan berbagai seluk beluk yang berkait dengan daerah bersangkutan, yang secara nyata menunjukkan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an Indonesia.
Selain anjungan daerah, berderet museum-museum yang memamerkan bukan hanya koleksi sejarah, budaya, serta teknologi masa lalu dan masa kini melainkan juga menciptakan dialog dengan pengunjung melalui berbagai peragaan yang—pada gilirannya—menjadi tonggak penciptaan di masa depan. Penampilan 15 museum, antara lain Museum Indonesia, Museum Transportasi, Museum Migas, Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, merupakan sumber informasi tiada batas.
Wahana rekreasi berupa 11 unit taman, antara lain Taman Burung, Taman Akuarium Air Tawar, dan Taman Bunga Keong Emas; berbagai wahana inovatif, seperti Istana Anak Anak Indonesia, Teater Imax Keong Emas, Teater 4D’Motion, Kereta Gantung (skylift), “monorel” Aeromovel; serta Taman Budaya Tionghoa Indonesia dan TMII Waterpark yang kini sedang dibangun, juga menawarkan nuansa yang menarik.Berbagai jenis wahana dan fasilitas tersebut semuanya mempunyai dimensi rekreasi, pendidikan, pelestarian, sekaligus pemerkayaan cakrawala pengetahuan dan pewarisan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, khususnya bagi generasi muda.
Kunjungi Taman Mini “Indonesia Indah”, lihat pesona Indonesia.
Gambang Kromong
Sebuah orkes tradisional Betawi yang
merupakan orkes perpaduan antara gamelan, musik Barat dengan nada dasar
pentatonis bercorak Cina. Orkes ini memang erat hubungannya dengan
masyarakat Cina Betawi, terutama Cina peranakan dan populer di tahun
1930-an. Instrumen gamelan pada gambang kromong terdiri dari: gambang kayu, seperangkat bonang lima nada yang disebut kromong, dua buah alat gesek seperti rebab, dengan resonator terbuat dari tempurung kelapa mini disebut ohyan dan gihyan,
suling laras diatonik yang ditiup melintang, kenong dan gendang.
Sedangkan instrumen musik dari Barat meliputi terompet, gitar, biola,
dan saksofon.
Sekitar tahun 1937 orkes-orkes gambang kromong mencapai puncak popularitasnya, salah satu yang terkenal Gambang Kromong Ngo Hong Lao,
dengan pemainnya terdiri dari orang-orang Cina semua. Alat-alat musik
dalam orkestra tersebut dianggap paling lengkap, terdiri dari alat-alat
seperti berikut: sebuah gambang kayu; seperangkat kromong; empat buah rebab Cina yang berbeda-beda ukurannya; alat petik berdawai disebut Sam Hian; sebuah bangsing bambu; dua buah alat jenis cengceng disebut ningnong; sepasang Pan, yakni dua potong kayu yang saling dilagakan untuk memberi maat (tempo). Tangga nada yang dipergunakan, bukanlah slendro seperti laras gamelan Jawa, Sunda atau Bali, melainkan modus khas Cina, yang di negeri asalnya dahulu bernama tangga nada Tshi Che; seperti yang di dengar pada gambang.
Susunan belanga-belanga kromongnya adalah sebagai berikut :
Susunan belanga-belanga kromongnya adalah sebagai berikut :
(A) (G) (E) (D) (C)
(D) (E) (C) (G) (A)
Adapun yang disebut "rebab cina", yang berukuran paling besar dinamakan su kong, sesuai dengan laras dawai-dawainya, yang meniru nada su dan nada kong. Rebab dengan ukuran menengah disebut hoo siang, karena dawai-dawainya dilaras menurut nada hoo dan nada siang. Rebab yang paling kecil dinamakan kong a hian, sesuai dengan larasnya meniru bunyi nada-nada Cina. Rebab yang punya ukuran sedikit lebih besar dari kong a hian, ialah yang bernama tee hian, yang larasnya serupa dengan laras kong a hian.
Sam Hian adalah alat berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik seperti memainkan gitar; dan alat itu memainkan jalur melodi (nuclear melody)
dalam orkes tersebut. Ketiga dawainya dilaras dengan nama nada dengan
notasi demikian, apabila orkes Gambang Kromong memainkan lagu-lagu khas
Cina yang disebut Pat fem, maka dipergunakan pula tambahan alat tiup berupa serunai, yakni dai sosa dan cai di (siao sona).
Pada waktu pertama kali muncul di Betawi, orkes ini hanya bernama
gambang. Sejak awal abad ke-20, mulai menggunakan instrumen tambahan,
yaitu bonang atau kromong, sehingga orkes ini dinamakan Gambang Kromong.
Pada masa itu hampir setiap daerah di Betawi memiliki orkes Gambang
Kromong, bahkan tersebar sampai daerah Jatinegara, Karawang, Bekasi,
Cibinong, Bogar, Sukabumi, Tangerang, dan Serang.
Bagi orang Cina kaya, tauke-tauke
atau babah-babah pada masa "Batavia Centrum", sudah merupakan adat dan
tradisi, untuk memeriahkan bermacam ragam pesta dan perayaan mereka,
dengan memanggil perkumpulan gambang kromong untuk bermain.
Misalnya pesta perkawinan, rasanya tidak sempurna kalau belum memanggil
orkes seperti itu ke dalam pesta. Musik dan nyanyian dengan iringan gambang kromong,
sudah lazim pula dirasakan belum cukup asam garamnya, kalau belum
disertai minum arak, brendi atau alkohol. Pemain musiknya terdiri dari
orang Betawi asli atau Cina.
Di dalam perayaan tradisional bangsa Cina, yaitu Cap Go Meh
tidak lupa dimeriahkan dengan Gambang Kromong. Repertoar Gambang
Kromong yang sangat dikenal oleh masyarakat penontonnya, antara lain: Pecah Piring, Duri Rembang, Temenggung Menulis, Go Nio Rindu, Thio Kong len, Engko si Baba, dan lain-lain. Selain itu gambang kromong, biasanya disertai pula dengan lakon-lakon, seperti: Si Pitung, Pitung Rampok Betawi, Bonceng Kawan, Angkri Digantung, dan lain-lain.
Adapun lagu Gambang Kromong yang terkenal adalah Jali-Jali. Sedangkan lagu jenis Nina Bobok kebanggaan Gambang Kromong, berJudul indung-indung. Orkes ini memiliki repertoar asli dalam bahasa Cina, yang disebut sebagai lagu-lagu Phobin. Karena para penyanyinya kebanyakan terdiri dari wanita-wanita pribumi, maka repertoar Phobin tidak
dinyanyikan, melainkan dimainkan sebagai "gending" (instrumental). Hal
itu, bukan karena komposisi-komposisi tersebut memang bersifat gending,
karena banyak di antaranya yang benar-benar merupakan "Lied" atau lagu
untuk nyanyian vokal. Di antara lagu-lagu pobin ialah: Soe Say Hwee Bin (Joo Su Say sudah kembali), Kim Hoa Tjoen (bunga Kim Hoa berkembang), Pek Bouw Tan (bunga Bow Tan nan putih), Kong Djie Lok, Djien Kwie Hwee (pulang kembalinya pahlawan bernama Siek Jin Kwie).
Pada zaman dahulu, masa Hindia Belanda
orkes-orkes Gambang Kromong yang bersifat Cina-Indonesia itu, seringkali
tidak mempunyai biduanita-biduanita yang dapat menyanyikan
Po-bin-po-bin dalam bahasa Cina. Karena itulah lagu itu dimainkan secara
instrumental saja, padahal sebagian besar harus dinyanyikan, karena
merupakan melodi-melodi vokal. Lagu-lagu berbahasa Indonesia yang
dimainkan oleh orkes Gambang Kromong ialah lagu memuja bunga serta
tokoh, misalnya Pecah-Piring, Duri Rembang, Temenggung Menulis, Co Nio Rindu, Tion Kong In, Engko si Baba, dan selain itu cerita mengenai peristiwa lampau, umpamanya Bonceng Kawan, cerita Pitung Rampok Betawi, cerita Angkri Digantung di Betawi. Adapun salah satu lagu pengantar tidur yang populer masa itu adalah indung-indung.
http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/637/Gambang-Kromong
Kerak Telur
Kerak Telur, makanan khas tradisional Betawi
Makanan tradisional Betawi yang terbuat dari bahan-bahan seperti: ketan
putih, telor bebek/ayam, bawang, srundeng, udang kering (ebi), lada, dan
micin. Cara pembuatannya: ketan putih dan telur dicampur sebagai adonan
dengan diberi bumbu-bumbu seperti telah disebutkan di atas. Lalu
digoreng sangan (tanpa minyak goreng) dengan membolak-balikkan wajannya.
Kemudian diberi srundeng, ebi, dan bawang goreng.
Artikel : http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/1400/Kerak-Telur
Artikel : http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/1400/Kerak-Telur
Sejarah Jakarta
Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung
sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini
berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai.
Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai
prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai
kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat
dikatakan sangat sedikit.
Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama
Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu
bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di
pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan
rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa.
Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah,
dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah
nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah
yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang
Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.
Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.
Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.
Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.
Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.
* Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.
* 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan
sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).
* 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.
* 1 April 1905 berubah nama menjadi 'Gemeente Batavia'.
* 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
* 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
* September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
* 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
* 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj'a Jakarta.
* 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya.
* Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
* 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.
* Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus
ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi
pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan
bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah
kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)
Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah
Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik
Indonesia(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
Artikel : http://www.jakarta.go.id/web/news/1970/01/Sejarah-Jakarta
Artikel : http://www.jakarta.go.id/web/news/1970/01/Sejarah-Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
