Kamis, 19 April 2012

Ismail Marzuki

                Komponis dari suku Betawi asli, panggilannya Bang Ma'ing. Lahir di Kampung Kwitang, Jakarta, 11 Mei 1914 dan meninggal di Jakarta, 25 Mei 1958. Ia adalah tokoh musik Indonesia, pencipta lagu dan musikus serba bisa, yang sering tampil sebagai pemain orkes atau penyanyi. Lagu-lagunya bersifat sangat melodius, pesimistis, melankolis tetapi tidak cengeng. Lagu-lagu pejuangannya sangat manusiawi; merupakan catatan revolusi yang mengharukan; menggambarkan aneka tokoh manusia Indonesia yang serempak berjuang mempertahankan setiap jengkal tanah airnya.

         Ia menempuh pendidikan di HIS Idenburg Menteng kemudian melanjutkan ke MULO di Jl. Menjangan Jakarta. Sebagai anak Betawi ia memperoleh pendidikan Agama di Madrasah Unwanul Wustha. Karir musiknya diawali sebagai anggota grup musiknLief Java pimpinan Hugo Dumas, sebuah orkes terkenal di zaman Belanda, yang pernah sempat melawat ke Malaya. Lalu ikut dalam siaran NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappy) yang berdiri tahun 1934. Memimpin Orkes Studio Jakarta, membentuk Orkes Studio Bandung (1936-1937), Hoso Kanri Kyoku di zaman Jepang dan kembali memimpin Orkes Studio Jakarta di zaman kemerdekaan. Pada tahun 1931, Maing, sapaan akrab Ismail Marzuki, memulai menciptakan lagu O Sarinah yang menggambarkan suatu kondisi kehidupan bangsa yang tertindas. Lagu-lagu ciptaannya antara lain Rayuan Pulau Kelapa yang dicipta tahun 1944, Gugur Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Selendang Sutera (1946), Sepasang Mata Bola (1946), dan Melati di Tapal Batas (1947). Lagunya dalam bahasa Belanda yang terkenal serta sukses juga diluar negeri yakni Als De Orchedeen Bloeien.

        Ismail Marzuki menikah dengan Eulis Zuraidah penyanyi keroncong asal Bandung. Berhasil menciptakan 202 judul lagu. Lagu-lagu ciptaannya antara lain: Oh Sarinah, Olele Kotaraja, My Hulla Girl, Dari Jaman Belanda; Bunga Mawar dari Kayangan untuk film Terang Bulan; Bandar Jakarta; Panon Hideung (yang ditujukan untuk istrinya); Rayuan Pulau Kelapa, yang mendapatkan Piagam Wijaya Kusuma tahun 1964 dan masih banyak lagi lagu-lagu yang diciptakannya lagi sewaktu masa revolusi. Yang terkenal diantaranya: Indonesia Tanah Pusaka, Gagah Perwira, Maju Tak Gentar, Bagimu Negri, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, Kapral Jono, serta Sepasang Mata Bola.

            Gelar pahlawan nasional dianugerahkan kepadanya bersama lima putra terbaik bangsa lainnya, yakni Maskoen Soemadiredja, Andi Mappanyukki, Raja Ali Haji, KH. Achmad Ri'fai, dan Gatot Mangkoepradja. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November, di Istana Negara Rabu 10/11/2004. SebelumnyaNamanya diabadikan sebagai nama Pusat Kesenian Jakarta TIM, yang terletak di. Jl. Cikini, Jakarta Pusat.


http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3709/Ismail-Marzuki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar